No.37

Lidahnya terasa pahit, nasi serasa kerak, sayur bening bagaikan kuah dedak, hanya karena bukan Tini yang menghidangkan. Bukan tangan-tangan halus Tini yang meracik. Mama mendekatkan sepiring penuh berisi udang galah sebesar lengan anak-anak. Zuliana membisikkan kare kambing yang biasa disukai kaum laki-laki di atas bumi. Semuanya ditolak dengan menyudahi makannya…

Intainews.com:HUJAN turun renyai-renyai saat Bu Haji dan Haji Sardan menaiki peraduan untuk tidur siang. Udara yang sejuk dan angin dingin menyelusup melalui kisi-kisi jendela kamar tidur menerpa tubuh kedua anak manusia itu. Bu Haji mengatakan kepada suaminya, tentang Tini yang sudah benar-benar pasrah. Dia merasa sudah tidak mungkin lagi untuk bisa hidup dengan Ustadz Daham. Tini sudah sulit untuk percaya bisa terwujud apa yang ada di hatinya.

“Jadi, maksudnya?”

“Ya, seperti yang lalu Tini mau ke kota saja,” kata Bu Haji kepada suaminya.

“Sudahlah, barangkali itu lebih baik daripada dia menghadapi sesuatu yang terasa paling menyakitkan nanti. Terlihat mata kepalanya orang yang dicintainya duduk bersading dengan orang lain,…” begitu kata Haji Sardan setelah mempertimbangkan, tak mungkin lagi diurungkan pernikahan yang dimaui Bundanya.

“Kasihan Tini Bang, masih muda harus menanggung beban sangat berat,…”

“Semoga Allah meninggikan derajatnya,” tutur Haji Sardan pelan.

“Sebaik-baiknya cinta, ialah mencintai Allah daripada mencintai sesama manusia banyak cacat celanya. Mencintai Allah mendatangkan Surga, dia bilang begitu sambil menangis.”

“Bilang sama si Tini, besok subuh kita antarkan dia ke kota. Supaya kita tahu juga di mana arah tujuannya dan di mana pula tempat tinggalnya di kota. Dia sudah menganggap kita orangtuanya. Allah memberinya cobaan kepada hambanya yang mampu menerimnya. Dan Allah senantiasa melindungi Tini.” Istrinya menyetujui jalan keluar dari suaminya, dan sore nanti ia akan mengatakannya kepada Tini.

Selanjutnya keduanya tertidur pulas. Tenggelam dalam istirahat tanpa beban apa-apa.
Sementara Tini sudah kuat hatinya. Kali ini tidak akan mundur lagi. Segalanya sudah disiapkan sehingga kapan saja tinggal berangkat. Seperti mehadapi kematian yang harus disiapkan jauh-jauh sebelunya.

Tidak perlu lagi dia mendengar kata-kata Ustadz yang tidak juga memberi jalan keluar. Tidak ada keberanian untuk munjukkan kebenaran cintanya. Sehingga sebagai laki-laki di mata Tini ustadz tidak konsisten dengan apa yang ada di hatinya, yang segera dikatakannya oleh lidahnya saat ijab kabul. Dia hanya berdiam, tidak memberinya cahaya.

Sedangkan saat ini Ustadz Daham sedang berperang dengan hatinya, dihadapkan makanan aneka jenis yang lezat cita rasanya di rumah makan Padang sangat terkenal. Ketika Mama dan Zuliana bernafsu mengambil nasi dan lauk gulai kakap. Daham hanya mengambil segenggam nasi putih, sayur bening bayam dua lembar dan sepotong ikan gembung goreng. Apa pun yang dihadapkan ke hadapannya tidak ada yang mendatangkan  nafsu makan.

Lidahnya terasa pahit, nasi serasa kerak, sayur bening bagaikan kuah dedak, hanya karena bukan Tini yang menghidangkan. Bukan tangan-tangan halus tini yang meracik.
Berulangkali Mama menawarka, agar mengambil makanan dan lauk yang enak-enak. Mama mendekatkan sepiring penuh berisi udang galah sebesar lengan. Zuliana menawarkan biar dia yang mengupaskan kulit udang yang yang memerah, supaya abang gampang memakannya. Tidak. Daham menolaknya dengan halus menyebut tidak suka  suka udang goreng. Mama menyebutkan daging sapi goreng balado, Zuliana membisikkan kare kambing yang biasa disukai kaum laki-laki di atas bumi ini. Semuanya ditolak dengan lembut dan Daham menyudahi makannya.* Bersambung