No.36

Intainews.com:AIR mata berlinang tak terasa membasahi dada Zuliana yang pilu. Lelaki yang menyayanginya selama ini dan selalu memberinya spirit untuk hidup. Dia selalu berkata, tidak usah memikirkan jodoh, kendati usia terus bertambah, kalau dengan cara lain bisa bahagia. Kini lelaki yang tidak bisa melupakan dirinya sudah lenyap.

Dia meninggalkan hotel saat Zuliana zunup di kamar mandi, setelah semalaman tidur dan becinta. Dia tidak sanggup berpisah saat Zuliana tersedu-sedu menangis melihat dirinya pergi. Saat menyalakan mobil, Zuliana menghapus air matanya dengan tisu, baru ia mengaktifkan HP yang dimatikan sejak sore kemarin.

Serta merta bermunculan SMS meminta dirinya mengaktifkan HP, dan kalimat Mama mencemaskan dirinya. Sambil menunggu mesin mobil dipanaskan, Mama menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.

“Tidak ada apa-apa Ma, cuma banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mulai hari ini sudah tidak lagi bekerja,” sambil memajukan mobil keluar hotel.

“Tapi biasanya lembur karena banyak pekerjaan akhir bulan. Ini kan baru tanggal lima Ana,…”

“Ana mau cuti menikah Ma, jadi harus diselesai,…semua kerjaan kantor” tutur Zuliana tanpa pernah kehilangan alasan untuk menutupi setiap pergi dengan laki-laki hampir paruh baya yang menjadi teman mesranya.

“Bukan apa-apa Ana, kasihan calon suamimu itu. Wajahnya cemas kalau ada apa-apa dengan calon istrinya,…”

“Bilang sama dia, siang ini kita pergi lagi. Makan siang bersama dan memilih baju…”. Zuliana senang sekali mendengar cerita Mama tentang Ustadz Daham sangat perhatian dengan dirinya. Bagai air di daun keladi, hilang sekejap kesedihan perpisahan dengan lelaki yang menidurinya berulang-ulang tadi malam.

Semoga dia adalah jodohku yang terbaik, titipan dari Tuhan supaya aku dapat melupakan laki-laki yang membuat aku menangis saat berpisah. Begitu kata hati Zuliana yang memacu kendaraannya seperti angin supaya lekas tiba di rumah dan bertemu Daham.

Kecemasan Ustadz Daham sesungguhnya karena merasa dirinya laksana kelinci yang terperangkap pemburu. Oh. Daham sedikit terkejut, tiba-tiba Mama Zuliana sudah berada di sisinya, mengatakan kepada Zuliana tidak usah ke rumah. Mama sudah bersama Daham di kantor polisi.

Daham mengukir senyum, menunduk menghormati Mama, sementara hatinya remuk rendam harus menikah dengan Zuliana dan meninggalkan Tini. Ketika mengatakan rencana Zuliana mengajak makan bersama dan memilih maju ke tempat yang kemarin, Daham pamit bertemu Bunda. Mama menyatakan ikut, dan mereka berjalan beriringan ke sel menemui Bunda.

Tidak begitu lama, menyusul Zuliana yang tanpa ragu melingkarkan lengannya ke pinggang Daham, supaya dia tidak mencemaskan dirinya lagi. Bunda senang melihat apa yang dilakukan Zuliana kepada anaknya.

“Tidak salah Bunda menjodohkan kalian nak. Zuliana wanita yang baik dan dekat dengan suaminya,” tutur Bunda. Zuliana senang mendengar pujian itu, semakin mendekap ustadz Daham. Lelaki itu menunjukkan senyum kepada Bunda dan Mama sekalipun hatinya seperti tertusuk duri. * Bersambung