No.35

Intainews.com:BENAR saja, Zuliana tidak berkutik saat bertemu dengan lelaki yang membawanya ke dalam hidupnya selama ini, memberinya uang tidak sedikit, memberinya harta, mobil, rumah dan perhiasan yang tidak terhingga. Dengan semua itu lelaki ini menikmati kelezatan saat tidur bersama dan berhubungan dengan Zuliana. Tidak bisa dipungkiri, dalam hati Zuliana saat berada dalam dekapan lelaki ini ikut menikmati hubungan perselingkuhan ini.

Tetapi, belakangan ini ia ingin keluar dari lumpur dosa ini. Betapa dirinya merasa bersalah, dengan istri lelaki ini yang katanya sakit menahun. Ini terjadi setelah dijodohkan dengan Ustadz Daham, Zuliana merasa disinilah momentum dirinya keluar dari lingkaran busuk ini. Ingin rasanya berbuat baik dengan usianya yang terus terus bertambah.

Setelah menikah dengan ustadz Daham, kelak dia berjanji untuk sesungguh hati berbakti selaku istri yang sah sebagaimana mestinya yang diajarkan kitab suci. Hapus semuanya, tinggallah segala kebusukan, dan tindak-tanduk syetan selama ini. Apa lacur?

Lelaki yang berada di sisinya mendekapnya untuk tetap berada dalam lautan dosa.
“Zuli, bapak coba dua bulan ini untuk melupakanmu, tetapi tidak bisa Zul.”
“Tetap Harus kita lakukan, kita mesti berpisah. Tidaklah mungkin selamanya kita harus seperti ini,….”

“Maafkanlah bapak kemarin marah padamu, mengancammu Zuliana, hanya karena bapak merasa tidak bisa melupakanmu.”

“Kita coba lagi…” Zuliana menatap wajah lelaki yang selama ini menjadi kekasih dan tempat menyalurkan cinta gelapnya. Tiba-tiba dia berdiri dan mengambil sesuatu dari saku celananya yang diletakkan disandaran kursi di kamar hotel. Menyerahkannya pada Zuliana kotak warna merah saga.

“Pakailah gelang itu nanti saat kau menikah, supaya kau kelihatan cantik dan terhormat.”

“Aduh. Sudah terlalu yang bapak berikan,” kata Zuliana sambil memegang lima perhiasan gelang emas, besar dan sangat indah tidak seperti yang sebelumnya diberikan kepadanya. Zuliana mengaguminya sebentar saja perhiasan laksana milik Ratu Cleopatra. Kembali dimasukkannya ke kotak warna merah saga.

“Pakailah. Kalau kita tak pernah bertemu lagi, itulah tanda pertemuan kita yang terakhir kali,….”

“Bapak mau ke mana ?”

“Ya ke mana saja ke tempat paling jauh supaya kita tidak pernah bertemu lagi. Dan bapak tidak pernah mendengar lagi tentang kamu Zuliana, yang membuat hatiku perih. Orang yang sangat kucintai sepenuh hati bahagia dalam pelukan laki-laki lain yang bukan aku.”

“Kalau Zuli tidak bahagia pak?”

“Carilah bapak di tempat-tempat kita biasa bertemu. Kalau memang bapak masih hidup kita pasti bertemu lagi,….Atau carilah laki-laki lainnya yang banyak menyukaimu, selain kau manis, kau sudah terbilang kaya,..” Kata-kata lelaki itu menyedihkan sekali dan menyakitkan. Zuliana menangis sejadinya sambil memeluk kuat-kuat pinggang laki-laki itu seperti tidak ingin berpisah.

Di rumahnya, Mama dan Haji Sardan beserta Ustadz Dahan berikut beberapa anak muda keponakannya pagi menjelang siang ini meraba-raba dan menduga-duga ke mana mencari Zuliana yang semalaman tidak pulang.

“Calon pengantin darahnya manis. Mungkin dia sudah dibunuh orang menelponnya kemarin yang membuat dia ketakutan,….” kata Mama mulai curiga dan matanya seperti langit sedang mendung. *Bersambung