No. 34

“Jangan cerita kerugian, aku juga rugi selama ini dieksploitasi semau bapak, dan kapan saja kuserah diriku samaumu. Dan kita sudah berjanji, kalau aku dapat jodoh, kita pisah baik-baik dan tidak saling ganggu,..”

Intainews.com: SUASANA tiba-tiba terasa tegang dirasakan oleh Zuliana tanpa diketahui oleh Mama, apalagi ustadz. Mereka cuma menyaksikan Zuliana seperti kuncing terbakar ekornya. Kelihatan dia benci sekali dengan orang yang dikenalnya lalu menghubunginya. Sehingga dirinya dikuasai amarah.

Kemudian ia membaca, diduga pesan singkat yang membuat dia menjadi panik. Mama menarik lengan anaknya untuk duduk. Ustadz hanya diam, menyaksikan sesungguhnya syetan jahat sedang merongrong diri Zuliana. Namun Zuliana tidaklah tahu syetan terus melekat kendati pesan singkat sudah dihapusnya.

Sehingga Zuliana sendiri yang menanggungkan bagaimana galaunya ancaman melalui pesan singkat. Sangat menakutkan dan menyakitkan kalau benar lelaki itu mengungkap dosanya di pesta perkawinan yang sangat diharap dirinya menjadi bersih.

“Ana, ada apa,…. Mengapa Mama tidak boleh tahu Nak. Jujurlah supaya Mama dan ustadz bisa membantu menyelesaikannya. Zuliana hanya menggeleng kuat dan menutup wajahnya dengan tangannya.

“Yuk kita pulang saja Ma,…”

“Ini bagaimana….pilihlah yang mana, supaya orang tidak kecewa.”

“ Tidak mengapa bu. Tak elok juga hasilnya kalau memilih tidak tenang hati. Tidak mengapa,… sudahlah, besok datang lagi kalau sudah tenang hati,….”

“Iya, maaf ya maaf,….”

Zuliana langsung menarik Mamanya. Ustadz diam dan dingin seperti air mengalir, dia tidak ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Kecuali telinganya mendengarkan. Di dalam mobil suasana sepi. Mama diam, Zuliana juga diam cuma dia berpikir lebih baik menemui lelaki itu, daripada dia datang saat pernikahan.

Keberanian Zuliana seperti memuncak, namun mobil masih meluncur normal. Dia tidak ingin membuat Daham ketakutan dan Mama berteriak-teriak mobil supaya dihentikan.

“Kita ke mana Ma,… Mama ke kantor polisi atau pulang ke rumah?”

“Ke Kantor polisi sajalah,…”

Zuliana menurunkan Mama dan ustadz. Seterusnya mobil dipacu seperti terbang menghilang.

“Anak itu masih belum dewasa pikirannya, walaupun umurnya sudah lebih dewasa,” Mama berkata kepada Daham. Tetapi Daham tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menanggapi kata-kata Mama. Baginya, tidak ada yang bisa dimaklumi dari tindak-tanduk Zuliana.

Makanya dia menjaga lidahnya jangan sampai menyinggung perasaan Mama. Bagi Daham jika Tini yang berbuat seperti itu segalanya akan pantas baginya untuk segera mendapatkan tausiyah. Lelaki ini yakin sekali, Tini perempuan yang cerdas sehingga mudah memahami arti etika, moral dan akhlak.

“Mama minta maaf nak. Kamulah yang bisa mendidiknya nanti, kamu sudah melihat apa adanya. Mama percaya kamu bisa mengembalikan baik budinya.…”

“Iya Ma,…” kata Daham singkat. Sesungguhnya ia juga tidak mau mnyakiti mama, seperti dia menghormati Bunda.

Sementara perjalanan Zuliana menuju tempat bertemu yang dijanjikan, masih terus terjadi perdebatan melalui handphone dengan kekasih gelapnya. Bagi lelaki itu, tidak begitu saja putus. Sementara dia menyebut sudah mengeluarkan banyak uang dari hubungan selama ini.

“Jangan cerita kerugian, aku juga rugi selama ini dieksploitasi semau bapak, dan kapan saja kuserah diriku samaumu. Dan kita sudah berjanji, kalau aku dapat jodoh, kita pisah baik-baik dan tidak saling ganggu,” Zuliana mengingatkan ikrar bersama.

“Tapi kamu kan belum menikah. Berarti belum berlaku janji kita itu. Kemarilah biar kita bicarakan baik-baik,” ucap laki-laki itu dengan enteng dan tenang. Ah, tahulah Zuliana apa di balik kata-kata manisnya itu. Ujungnya tidur sama malam ini dan besok baru pulang. * Bersambung