No.32

Betapa tersiksanya hatinya dengan ucapan Zuliana yang semakin memastikan tak lama lagi dirinya sudah menjadi suami, dan istrinya Zuliana, lalu dia tidur bersama dan tinggal serumah dengan wanita yang tak pernah ada di hati. 

Intainews.com:ZULIANA sengaja mengambil tempat duduk berdampingan dengan Ustadz Daham. Wanita ini merasa waktu yang dalam bilangan hari untuk diriya akan duduk dipelaminan, semakin membuat dirinya berusaha dekat dengan calon suaminya ini. Apalagi ustadz kelihat diam saja ketika lengan bajunya dan lengan baju ustadz sudah saling bersentuhan terasa sampai ke kulit tangan.

Betapa senangnya Zuliana. Apalagi sejak pertemuannya dan tidur di hotel bersama lelaki yang merupakan atasannya dua bulan lalu, dia sudah tidak pernah bersama laki-laki, kecuali ustadz Daham yang di hatinya. Sebelumnya hampir setiap minggu, bahkan tidak jarang seminggu tiga kali mereka tidur seranjang.

Oh, kerinduan dan gelora jiwanya ingin segera dicurahkannya dengan ustadz di sisinya ini. Hampir tidak sanggup lagi dirinya menahan gelora jiwaya walau se haripun. Zuliana tidak juga peduli dengan Haji Sardan yang merupakan Pakciknya, memperhatikan tingkahnya.

“Bang,…” kata Zuliana kepada ustadz. Lelaki itu diam saja, namun darahnya berdesir, merinding merasa tidak ingin wanita ini yang memanggil dirinya begitu. Kecuali Tini. Tidak lama Haji Sardan pamit dengan ustadz untuk kembali ke rumah. Dia tidak sanggup melihat kemesraan yang ditawarkan keponakannya kepada ustadz. Zuliana mengganggap ustadz sebagaimana laki-laki lainnya.

Haji Sardan pamit untuk kembali ke rumah. Ustadz berdiri, Haji Sardan memandang mata ustadz, dia mengerti pasti sesuatu yang harus dikatakannya pada Tini. Setersusnya, tinggallah Zuliana dan Ustadz Daham.

“Boleh aku memanggil abang, karena sebentar lagi kita sudah menikah….,” kata Zuliana sambil menahan gelora yang biasanya saat bersama atasannya, langsunga ia mendapat elusan, kata-kata pujian dan seribu sanjungan. Tetapi Ustadz Daham diam saja.

“Nanti kita ke toko memilih warna pakaian dan model yang kita sukai bersama mama.” Aduh!. Betapa tersiksanya hatinya dengan ucapan Zuliana yang semakin memastikan tak lama lagi dirinya sudah menjadi suami, dan istrinya Zuliana, lalu dia tidur bersama dan tinggal serumah dengan wanita yang tak pernah ada di hati. Getar hatinya senantiasa terbawa dalam kalbu bersama Tini.

Mama Zuliana mendekati Daham menyebut Bunda memanggilnya. Seperti tupai mendengar letusan, ia setengah melopat menemui Bundanya di sel tahanan. Sekaligus jadi momen meninggalkan Zuliana. Tetapi,.. Zuliana dan mamanya menyusul.

“Anakku,…tak usah ditunggu Bunda bebas dari tempat terkutuk ini. Menikhlah segera dengan Zuliana. Beritahu keluarga kita, nanti yang mendampingi ananda Haji Sardan.” Begitu kata Bundanya. Betapa sakitnya hati Daham mendengar kata menikah itu, namun tak sepatah pun ada bantahan, kecuali wajah Daham menunduk lunglai.* Bersambung