No.31
BU HAJI masih terus berusaha agar Tini tidak pergi meninggalkan kampung halamannya karena sakit hatinya.

“Percayalah Tin, tidak lama lagi ustadz datang kepadamu. Dan mengatakan semua yang di hatinya. Waktu itu nanti jawablah semuanya dengan apa yang selama ini ada di hatimu.”

“Tidak mungkin bu,… hatiku ini merasakan lain. Seperti ada sesuatu yang bakal terjadi tidak tahu apa. Itu terasa sesudah Bundanya marah besar,…”

“Semua itu akan hilang kalau Tini bertemu dengan ustadz, karena ustadz sudah dewasa, pintar dan terhormat dia tahu apa-apa yang harus dijalaninya.”

Tini tidak menjawab. Dibayangkannya kini wajahnya yang biru lembam dan dadanya terasa sakit sekali ditendang Bunda lelaki yang menjadi harannya. Hatinya dan pikirannya memang mencintai ustadz dan rasa itu adalah yang pertama di hatinya. Selama ini banyak teman sekolahnya di kota menyukai dirinya, tetapi tidak satupun disukainya. Hanya teman biasa, teman untuk pergaulan di sekolah. Tidak ada yang istimewa.

Di waktu yang sama Haji Sardan berada di kantor polisi, mendengar ungkapan ustadz yang berada di hatinya saat ini. Ustadz berkata tentang teman-teman kuliahnya di Kairo, banyak mahasiswi dari berbagai daerah di Indonesia suka kepada dirinya, namun tidak sedikitpun wanita-wanita sekampusnya ada yang singgah di hatinya walah sedetik saja.

Sebagai lelakimuda ustadz daham semakin terbuka, sejak pulang dari Kairo, pertama sekali melihat Tini yang mengikuti pengajian di musala, ia langsung suka. Tinilah perempuan yang ada di dalam kalbu dan menyentuh hatinya. Kini ia jujur dengan Pak Haji Sardan, setelah Tini dipukuli Bundanya hatinya sangat khawatir dan bimbang, kalau Tini membecinya. “Ke mana lagi perahu ini akan saya labuhkan,…..Pak Haji. Beberapa saat tidak ada yang berkata-kata, kecuali tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Ustadz ingin segera menemui Tini untuk meminta maaf, sekaligus mngungkapkan dengan tulus apa yang di hatinya.

Haji Sardan merasakan keponaknnya yang dijodohkan oleh orangtunya dan disetujui Bunda sudah bulat. Pihak keluarga sudah mempersiapkan segalanya. Ingin Pak Haji Sardan menyinggung itu dengan ustadz. Tetapi lidahnya kelu untuk menyampaikan itu. Tiba-tiba Haji Sardan tersentak disapa koponakannya Zuliana yang datang bersama Mama untuk menjenguk Bunda yang ditahan polisi. Ustadz tertunduk seperti daun putri malu saat disapa Zuliana. Dibiarkannya telapak tangannya disalami Zuliana, tanpa nada. Kosong. *Bersambung