No. 30

Intainews.com:BU HAJI berusaha melunakkan hati Tini yang kembali mengeras untuk lebih cepat ke kota berlama-lama di sini. Dirinya tidak ada harganya, orang semena-mena memukuli dirinya. Ustadz yang menjadi harapannya, hilanglah sudah. Ustadz yang diharapkan bisa hidup bersama dirinya, melindungi, mengajarkan kepada dirinya menjalankan agama yang baik dan benar, ternyata hati lelaki itu cuma singgahdan melekat sekejap sudah itu hilang. Persis air di daun keladi, atau embun yang diterpa matahari.

“Tini janganlah pergi. Kamu tidak bersalah, kamu cuma korban. Ustadz juga tidak bersalah. Kalau Tini pergi bagaimana nanti ustadz. Sepertinya ustadz tidak main-main dengan Tini…..”

“Tapi bagaimana kita menyukai ustadz selama Bundanya mambenci saya Bu?”

“Ustadz nanti menjelaskan kepada Bundanya,” kata Bu Haji, yang hampir saja tersebut olehnya tentang Daham yang dipaksa menikah dengan seorang perempuan yang sesungguhnya tidak disukainya.

“Ustadz jatuh hati sejak lama dengan Tini, namun ia masih memendamnya di lubuk hati. Dia melihat dulu gerak-gerik, tingkah laku perempuan yang disukainya. Rupanya Tini yang cocok dengan hatinya. Barulah dia minta tolong suami Buk Haji memberitahukan kepada Tini. Percayalah Tini, kalau Tini meninggalkanna akan hancur harapannya,”

Tidak Bu, ustadz pasti akan berpindah ke perempuan lain. Percayalah orang seperti dia seperti gula didatangi semut bu,..” Tini mengatakan apa yang di hatinya saat ini. *Bersaambung