Tantawi Panggabean

Tantawi Panggabean
DEBAT TAK KUNJUNG PADAM

Selama kekuasaan disanjung manusia n”tuk meraup
jabatan materi tiada henti putaran iri dengki menyesak hati
terkebiri melekat kebimbangan palsu
Wajah-wajah berkedok wibawa didramatisir seakan tau mampu
berbuat paling hebat bak kambing mengaum harimau .
Sebongkah batu cadas lumer tercurah air hujan tiada
henti menerpa monoton

Aku paling bisa
Aku paling hebat
Aku paling dekat
Kau tak ada apa-apa
Kau tak mampu berkata
Kau pecundang biasa

Ke AKU an muncul seketika ingin berkuasa
Adu bicara bak semburan minyak menerpa gemercik
arang hangus menyala lag, marak berebut dusta.
Debat bukan rel lurus semata kebutaan diterik
mentari menjelma anarkis dari kilauan sinis mata
sunggingan bibir
Deburan Emosi Buat Aku Terobsesi
luluhkan semua itu
untuk kedamaian abadi

Tantawi Panggabean

P U D A R

Gemerlap kilauan dusta bahana menggaung lara
Merentas kebingungan duka
Kelam mulai merambat perlahan-lahan
nuju sinar asa nan tak pasti
Kurengguk semua semilir gemerisik dedaunan randu
Titik kapas bak salju turun melayang tak terarah
Tiada lagi refleksi cahaya nyata ,berkabut memburam
Antara gulita dan onggokan embun tiada berair bening
Kutahan nan tiada tertahan
Kusembunyikan nan tiada tersembunyikan
Kapan hati terluka dapat bahagia bila cahaya
nyata membram memudar kaku
Kebahagian terusap bila kelopak selampe menghapus
kebisuan permukaan datar kebeningan yang terharapkan
untuk menghilangkan kepudarannya
Kutunggu kuharapkan refleksi ini menjelma lagi