No.26

Daham Tidak bicara. Dibiarkannya Bundanya memarahi dirinya. Bunda mengatakan akan mendatangi Tini.

“Biar kuhajar anak itu, biar dia tahu diuntung. Apa yang membuat dia berani mengganggu anakku,” Bunda mengatakan itu dengan hati yang panas penuh marah. Mendengar kata-kata itu langsung Daham jongkok dan memeluk lutut Bunda.

“Maaf Bun. Janganlah ganggu dia. Anak Bunda ini yang salah.”

“Tidak. Tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Ada api, pasti ada asap.

“Tolong Nda, ampunilah anak Bunda ini. Betapa malunya kalau sampai Bunda mendatanginya, ke manalah muka ini disembunyikan.”

Bundanya tidak mempedulikan kata-kata anaknya. Baginya yang penting dia labrak si Tini yang tak tahu diri itu. Ditinggalnya Daham yang terus menghiba-iba. Ah,…betapa hancurnya mukanya di hadapan Tini. Untunglah Bunda tidak membawa HP yang dicampakkannya. Daham menghubungi Haji Sardan. Mendengar suara ustadz, bagai tupai mendengar petir dia melompat ke rumah Tini.

“Hei! Kau tau diri, siapa kau mengganggu anakku!” Wanita gemuk itu langsung masuk ke rumah Tini dan menjambak rambut Tini yang sedikitpun tidak melawan. Tini pasrah dicaci maki dan ditampari wajahnya. Untunglah segera Haji Sardan datang bersama istrinya, melerai kejadian itu. Namun masih sempat Bunda menendang perut Tini saat duduk hingga terjungkang ke belakang.

“Bu, ini penganiayaan bu. Ini tidak dibenarkan secara hukum,” kata Haji Sardan.
“Biar, kalau tidak senang biar dia melapor polisi. Supaya dia tau diuntung, anak kemarin sore sudah berani mengganggu anakku. Kumatikan sekarang baru kau tahu,” Bunda masih seperti singa yang marah.

Perempuan yang dikenal di kampung itu ibu dari Ustadz Daham, semakin menjadi-jadi membentak penuh makian yang dilontarkan. Sepertinya semakin banyak orang datang, semakin dia senang menunjukkan kemarahannya.

“ Sudah bu, lihatlah hidungnya sudah berdarah,” kata Bu Haji sambil memeluk Tini.

“Sudah, bawa Tini keluar,” kata Haji Sardan kepada istrinya. Saat Tini keluar masih sempat Bunda melayangkan tinjunya ke muka Tini. Bu haji terus menyeret Tini ke luar dari rumahnya. Haji Sardan melindunginya.

Tini dibawa ke rumah kepala desa setelah wajahnya biram membengkak dan perutnya terasa sakit. Kepala desa bersama Bu Haji membawanya ke Puskesmas. Kepala desa geleng kepala, kejam nian perempuan yang memukuli Tini, apa salahnya sampai harus dipukuli seperti ini.

Bu Haji menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Tak lama datang Haji Sardan setelah mengunci rumah Tini. Haji Sardan melengkapi cerita yang sesungguhnya. Haji Sardan menyarankan Tini melapor ke polisi. Kepala desa tidak keberatan, selama ini dia mendengar dari warga desa betapa banyaknya perbuatan wanita itu semena-memena terhadap warga di kampung ini.

Usai mendapat perawatan Tini akan dibawa ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatan penganiayaan terhadap dirinya. Namun Tini tidak setuju.

“Tidak usahlah sampai ke polisi,” begitu kata Tini setengah berbisik. Menurut hatinya apa kata Ustadz Daham nanti. Haji Sardan dan kepala desa tetap akan melaporkan perbuatan kejam ini supaya tidak dilakukannya dengan orang lain seperti ini.

“Apa kata Ustadz nanti,…” ujar Tini.

Kepala desa ikut menjamin, menjelaskan ke ustadz bagaimana selama ini tindak-tanduk ibunya.

Di rumah, Ustadz Daham terus juga dimarahi dan dilepar gelas, dipukul pakai sendl dan sepatu. Tidak sedikitpun Bunda merasa selama ini Daham sangat dihormati setelah kembali dari Kairo Dam sungguh anak yang baik dan terpuji sehingga warga kampung menghormati dan menghargainya. Namun tindak-tanduk Daham yang baik budi, bertolak belakang dengan sifat Bunda. Tetapi Daham tetap menghormati dan menjunjung tinggi marwah bundanya. * Bersambung