No.25

HUJAN rintik-rintik pagi ini menciptakan udara sejuk berkabut. Cuaca turut membuat Tini terlambat bangun. Dia terjaga saat jam sudah menunjukkan pukul Sembilan. Ini artinya Tini sudah meliwatkan waktu shalat subuh. Mimpi semalaman membuat tidurnya tidak sempurna sehingga diamengantuk.
Tatkala mata sudah terbuka, belum membuat Tini bangkit dari peraduan, padahal hari sudah menjelang siang. Jiwa gadis ini masih terbawa oleh mimpinya bersama Ustadz Daham malam tadi, ini membuat badannya malas bangkit dari ranjang, Dia masih berharap dapat tidur lagi dan kembali mimpi berkuda dengan ustadz di padang safana.

Lalu, saat dia masih bebaring di ranjang, dalam hati dia bertanya, apakah ustadz juga mimpi seperti ini, menjadi kotak batin yang sangat kuat. Kalau benar, itulah harus kami pelihara sampai naik ke pelaminan.
Tiba-tiba Tini mengingat nomor handphone ustadz yang diberikan kepadanya.

Apakah pantas kalau dirinya menghubungi ustadz. Tidak, sangat tidak elok kalau anak gadis menghubung laki-laki. Tetapi kalau tidak melalui telepon bagaimana lagi caranya untuk bisa berkata-kata dengan ustadz. Tini benar-benar mengurungkan niatnya menghubungi ustadz. Namun, betapa terkejutnya dia saat handphone miliknya berdering. Begita diangkat, jantungnya berdebar keras, mendengar suara ustadz.

“Halo,…Tin,…”

“Ya,….ya….. halo, ustadz,…” Tini merespon suara ustadz dengan jantung berdebar kencang menyebabkan suaranya yang terbata-bata, gugup.

“Jangan lupa, besok kita ke kota, mengantarkan kamu untuk tinggal di sana….,”

“Ya ustadz, terimakasih…”

“Maksud saya sudah bisalah disiapkan apa yang mau dibawa,….”
“Ya, ustadz, saya siapkan sekarang.”

“Kenapa kamu sepertinya gugup, ada apa?”

“Nggak ada apa-apa utadz, saya baru bangun tidur,….”

“Wah, pantas subuh tadi Tini tidak ke musalla,…saya pikir Tini sakit, maka saya telepon…,”

“Tidak ustadz saya baik-baik saja,….”

“Alhamdulillah,…..” Tiba-tiba hubungan telepon terputus.

Tini merasa sinyal terganggu. Apakah baik kalau dirinya kembali menghubungi ustadz. Ah tidak, tidak baik, kalau memang sinyal terganggu pastilah ustadz akan kembali menghubungi dirinya.

Tini tidak tahu, hubungan telepon diputuskan Daham karena Bundanya mengetuk kamarnya. Bunda masuk kamar anak lajangnya ini danduduk dipinggir ranjang. Melihat ada handphopne di atas tempat tidur, lalu diraihnya. Alat komunikasi terasa panas. Bunda bertanya.

“Baru menelpon siapa?”

Daham memilih tidak menjawab daripada bundanya marah besar. Benar saja, bundanya membuang handphone itu ke lantai, begitu dia melihat nama Tini.
Bundanya berdiri dan bersama marah besar meminta jawaban Daham.

Siapa itu….!” *Bersambung