No. 24
Intainews.com:DUHAI Tini, aku seperti tak kuasa menahan segala gelora asmaraku padamu. Kesedihanku menjalar ke seluruh tubuhku saat aku mengingatmu. Sesungguhnya di mataku, kau adalah gadis yang berat dalam menjalani kehidupan ini. Masih muda belia kamu sudah ditinggalkan kedua orang tua. Betapa haru birunya masa mudamu, tidak dapat seperti gadis sebayamu yang ada tempat mengadu, ada tempat berkeluh kesah, tempat menunpahkan semua rindu.

Tin, itu semua menjadi pertimbanganku untuk sepenuh hati mencintaimu. Membelaimu sebagaimana seorang kekasih. Sekalipun aku percaya, kisah perjalanan cinta ini tidak mulus seputih salju. Duhai, kekasihku, apakah kau siap menerima berbagai cobaan nanti. Cobaan akan selalu datang bagi seluruh manusia di bumi. Ada yang dicoba-Nya dengan kemiskinan, ada juga dicoba-Nya dengan penyakit tak sembuh-sembuh, Dicoba dengan kehilangan darajat, Tuhan juga mencoba seseorang dengan kaya raya. Orang yang baik dan berhasil ke surga hanyalah orang-orang yang tak guncang dengan berbagai cobaan.

Bunda terbangun liwat tengah malam saat mendengar suara Daham mengigau, menceracau mengatakan tentang cinta. Siapakah yang dimaksud kekasih itu? Tanpa disadari Daham, Bundanya terus saja menempelkan telinganya ke daun pintu kamar tidur Daham yang terkunci rapat. Anak lajangnya terus saja menceracau mengigau berulang-ulang menyebutkan kekasih dan cintanya.

“Hei Daham! Buka pintu. Buka,….”

Daham tidak mendengarkan suara Bunda, dia terus terbenam dengan segala impiannya. Lama kelamaan suara Bunda makin kuat bersama pintu kamar digedor dengan tinjunya yang bulat. Barulah Daham terbangun, membuka pinta sambil menggosok-gosok matamya.

“Ada apa Bunda?”

“Siapa itu yang kamu sebut cinta dan kekasih? Siapa perempuan itu?”

“Entahlah, badan ini seperti mengapung melayang-layang ke langit,” hatinya sangat takut kalau Bunda sampai mendengar apa yang dikatakannya.

“Seumur hidupmu tak pernah mimpi sampai begitu. Mimpi dengan Zuliana?” Bunda mulai menebak, berarti tidak tahu kalau dirinya bermimpi dengan Tini.

“Kalau Zuliana, buat apa sampai terbawa dalam mimpi. Tenangkan pikiranmu, pernikahan dengan Zuliana itu pasti. Sudah di ambang pintu, seperti puyuh Zuliana sudah terjerat,” begitu kata Bunda. Daham tidak memberi jawaban.

“Sudah, tidurlah,” sergah Bunda.

Daham masuk ke kamar mandi membasuh muka. Jam menunjukkan pukul 02,00 dinihari. Kembali ke kamar dan merebahkan badannya di peraduan.

Di saat yang sama Tini sedang berlari di bukit dan rumput yang lembut bersama seorang lelaki. Lelaki itu menunggang kuda putih, oh,…Daham. Dengan malu-malu Tini mengulurkan tangannya saat diminta lelaki berkuda itu. Secepat kilat dia sudah berada di atas bersama Daham yang memacu kudanya berlari kencang. Wow badannya ikut telonjak-onjak mengikuti irama kaki kuda yan berlari di bukit yang indah sekali, Tini merasa dirinya di peluk lelaki yang dikenalnya adalah Daham. *Bersambung