No.23

Intainews.com:BETAPA senangnya Tini mendengar dia akan diantarkan ustadz, Bu Haji dan Pak haji Sardan. Itu artinya, dirinya pamit untuk segera pulang, siapa tahu ada hal yang ingin mereka bicarakan dengan ustadz. Dalam perjalanan pulang ke rumah yang tak begitu jauh dari kediaman Haji Sardan, berulang-ulang diucapkannya alhamdilillah di dalam hati. Seakan sudah terbentang karpet merah menyambut masa depannya yang cerah. Di benaknya terbayang-bayang dirinya hidup dengan Ustadz Daham yang pintar, terhormat, berakhlak dan berbudi baik.

Seperti burung lovebird tiba di rumah Tini bernyanyi kecil dengan suara rendah agar tidak didengar siapa-siapa. Tapi mudah-mudahan batin ustadz mendengarya. Sampai ke jiwa ustadz bahwa dirinya menyambut cinta ustadz. Disimpannya nomor handphone utadz. Ditulisnya nomor itu di tempat-tempat rahasia di dinding kamarnya, sampai ke sudut dinding kamar mandi agar tak akan pernah hilang, karena nomor hanphone ini jalan satu-satunyairinya, dirinya bisa berhubungan dengan ustadz.

“Oh suamiku kelak seorang ustadz, itu artinya aku harus menjaga marwahnya, harus lebih banyak mengaji dan baca Quran,” begitu bisik hatinya. Tetapi apakah ustadz sesungguh hati mencintai dirinya yang lemah seperti anak kambing terhuyung-huyung saat baru dilahirkan?

Di balik itu, ustadz benar-benar untuk membawa Tini ke lubuk hstinya untuk menjadi kekasihnya di bumi. Tidak akan diberikannya cintanya kepada wanita lain siapapun itu.Tini adalah wanita yang sangat tepat menerima panah asmara yang dilepaskannya dari busurnya. Cinta yang datang ke hati ini tidak keluar dan terbongkar, untuk mencintai gadi-gadis lain. Cinta hanyalah sekali dan itu abadi, seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti Ratu Mesir Cleopatra dengan Antonius dan kisah kasih Laila Manjun di timur tengah.“Oh Tini, hargailah cintaku ini, seperti aku menghormati cintamu.” Hati Daham berkata-kata untuk sang kekasih.

“Begini ustadz, apakah ustadz berani melangkahi kemauan Bunda dengan menolak cinta perempuan yang telah dijodohkan kepada ustadz,” kata Haji Sardan yang mulai menjalankan amanah Mama Zuliana.

“Cinta sekali datangnya. Dan itu harus dipelihara dengan baik dan bersungguh-sungguh. Hati ini Pak Haji berat sekali rasanya untuk mencabut kembali dari gadis Tini,” tutur ustadz.

“Jadi, bagaimana kalau Bunda tahu soal ini?

“Begitulah cinta sepanjang sejarah kehidupan. Datangnya diwarnai proses dan perginya juga tidak lepas dari proses. Sepanjang cinta itu tidak menyakitkan dia akan bertunas, tumbuh sampai akhir hayat. Seperti cinta Bunda dengan ayah kami.”

Mendengar kata-kata ustadz membuat merinding bulu roma Pak haji. Ini artinya akan terjadi masalah besar. Ustadz tersenyum kecil melihat Pak Haji terdiam tidak mampu berkata-kata. *Bersambung