No.19

Intainews.com:MALAM di rumah, Daham masih memegang hadits yang tadi dibacanya. Bunda datang membawa bubur jagung untuk anak lajangnya ini. Tiba-tiba Bunda bicara tentang acara pernikahannya dengan Zuliana yang waktunya tidak berubah dan bergeser sedetik pun.

Itu artinya dua pekan lagi ia harus terpaksa besanding dengan Zuliana tanpa hati. Sungguh Daham tidak ingin dinikahkan dengan Zuliana. Kali ini dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Apalah gunanya harus menikah dengan Zuliana kalau akhirnya berpisah juga. Perkawinan adalah wajib, tetapi haruslah dibungkus rasa cinta.

“Bunda, maaf. Anak Bunda ini bukan tidak mau menikah, tetapi waktunya belum tepat. Izinkan ananda untuk kembali ke Kairo dua atau tiga bulan untuk mengambil surat-surat tanda tamat belajar dan sekaligus berniat untuk umrah,” tutur Daham.

“Ya sudah, bawa Zuliana supaya kalian bisa umrah bersama,” kata ibunya menampilkan wajahnya yang pura-pura senang.

“Maksud Nanda, umrah adalah rencana terakhir sesudah menyelesaikan yang penting di Kairo,….”

“Bawa Zuliana,…titik.”

“Tidaklah baik Bunda bersama wanita tiga bulan lamanya tanpa ikatan pernikahan.”

“Ya,…menikah dululah, baru kalian berbulan madu di Kairo dan umrah bersama,” tegas Bunda.

Ustadz Daham terdiam, acara yang dijadikan alasan supaya menunda pernikahan dengan wanita yang dijodohkan Bunda mundur, supaya dia bisa bersiap berdialog dengan Tini gagal. Bunda menyorot tajam ke mata anaknya ini.

“Kapan lagi kau berbakti kepada orangtua, sekaranglah saatnya menyenangkan hati Bunda, menikahlah dengan Zuliana. Dia anak baik-baik, anaknya tidaklah buruk, manis wajahnya, PNS dan punya banyak uang, sehingga layak untuk dinikahi,” tutur Bunda yng diketahui Daham sedang marah.

Daham kembali ciut dan lisut hatinya, tidak mau menyakiti hati Bunda. Dia diam, ia bertanya dalam hati, bagaimana ini?

“Sudahlah, mana ada dunia ini orangtua ingin membuat anaknya sengsara. Pilihan Bunda untukmu, sudah lebih baik,” kembali Bunda menegaskan.

Daham hanya mendengarkan.

“Hati kecil Bunda tahu, anak Bunda sudah punya kekasih di Kairo, iya kan? Bilang saja, jangan buat-buat alasan.”

“Tidak Bunda, Nanda tidak berdusta,….”

“Ya sudahlah. Menikahlah dengan Zuliani, “ tukas ibunya dan masuk ke kamar meninggalkan Daham yang sendiri seperti kelinci muda tertangkap. Diangkatnya mangkuk berisi bubur jagung dan memakannya. *Bersambung