No.18
Intainews.com:MALAM INI Tini, hampir sepanjang malam dirinya tak dapat memejamkan mata. Jiwanya disesaki dengan kegembiran dan rasa syukur yang sangat luarbiasa, kiranya Allah Swt mengabulkan kidung dan doa-do setiap usai shalat ditujukkan-Nya jodoh yang terbaik dalam hidupnya. Air mata haru membasahi pipi dan pinggir bibirnya, mencuci segala keraguan dan kebimbangan menjalani hidup pasca ditinggal ibu dan ayah.

Cinta seorang lelaki terhormat yang dijunjung tinggi di atas kepala dan hatinya kini telah datang tanpa diduga-duga, membersihkan dirinya dengan keharuman kembang-kembang mendatangkan gelora untuk segera dapat hidup bersama ustadz. Sungguh cinta datangnya penuh misteri, menumbuhkan perasaan ustadz dan dirinya. “Akan kupelihara sebagaimana menjunjung tinggi keagungannya. Sungguh aku telah ditunjukkan ke arah lelaki baik sekali,” begitu kata Tini yang segera tertunduk pulas dalam tidurnya lewat tengah malam.

Sesungguhnya, malam tadi juga Haji Sardan mememui ustadz di musala, setelah mengantar istrinya sampai pintu rumahnya. Haji Sardan telah menceritan Tini tidak menyangka, dan malu-malu ia menolak, namun sesungguhnya dia menerima apa yang dimaksud ustadz.

Mendengar cerita Pak Haji, tentang reaksi Tini ustadz berterimakasih dan bersyukur kepada Allah Swt dirinya dipalingkan kepada wanita baik-baik berdasarkan intuisinya yang menggoda jiwanya hampir setiap malam selama ini. Itu terjadi setelah melihat Tini setelah dirinya kembali menginjak kampung halamannya saat kembali dari Kairo. Kemudian dilanjutkan dengan witing tresno jalarane sokokulino. Diwarnai saat-saat bertemu dalam pengajian. Oh, Tini gadis sangat cantik, tidak kalah dengan gadis-gadis Timur Tengah. Cinta sudah langsung bertunas.

“Kalau begitu Pak Haji, saya putuskan segera menikahi Tini.”

“Bagaimana dengan wanita yang dijodohkan Bunda…” kata Haji Sardan ingin tahu keutuhan sikapnya.

“Itu artinya tidak jodoh, Pak Haji. Allah telah menunjukkan dia kekasih saya dia wanita baik… Tolonglah saya bagaimana usaha yang kita lakukan untuk menolak jodoh dari Bunda,…”

“Baiklah ustadz, walaupun kelihatannya sangat sulit. Ya, sebaiknya saya harus mendapat tahu dulu sampai dimana persiapan perjodohan itu,” putus Haji Sardan yang kebetulan Bundenya bertetangga dengan wanita yang dijodohkan kepada ustadz. Cinta yang telah datang antara ustadz dan Tini muncul bagaikan benih zarah tumbuh dan membesar yang kelak menyapa cakrawala.

Kepada istrinya, Haji Sardan meminta agar bisa tahu seberapa jauh perjodohan yang diplot Bunda. Kapan tanggal pernikahannya. Pelan-pelan dan tenang-tenang saja, “operasi senyap” kata Haji Sardan meniru kata-kata yang sering muncul di televisi.

Bu Haji tersenyum-senyum kecil mengingat dirinya tempohari ketika dijodohkan oleh Emak dengan Haji Sardan. Haji Sardan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dirinya anak bungsu dari lima bersaudara, semua perempuan.

“Dulu kalau tidak dijodohkan pun, aku suka Kamu Dek. Kalau kamu bagaimana?”

“Terlambat, kenapa baru sukarang abang tanya?”

“Jawablah, tak ada salahnya.”

“Suka, tapi aku diam saja. Emak sama ayah tidak tahu. Waktu ditanya sebelum dijodohkan, aku diam saja… sampai kita menikah.”

“Kalau begitu, cocoklah. Kita sama-sama cinta,….” Tukas Haji Sardan sambil tertawa mencubit pelan dagu istrinya. * Bersambung