No.17

Intainews.com:TINI kembali sendiri, bagai tiang pancang bergoyang-goyang dipermainkan alun dan gelombang. Usai shalat Isya, memandang ke luar jendala, ribuan kunang-kunang berkelap-kelip di tiap pohon berombang. Indah sekali, mewarnai kenangannya saat Pida dan Lies bermalam di rumahnya. Saling berlomba untuk mendapatkan Ustadz Daham, membuat dia tersenyum.

Sekalipun saat Pida dan Lies saling berebut lelaki yang disukainya membuat hatinya sangat cemburu. Apalagi sebelum mobil yang disetir Lies melaju, dia berpesan: jangan kau goda ustadz kalau kau mau selamat. Kendati kata-kata itu adalah sebuah canda, namun sangat mengiris jantungnya, terdorong kecemburuannya yang terus menggelembung saat ada perempuan menyukai ustadz.

Tini hampir meyakini kalau ustadz akan membimbing dirinya ke sebuah rumahtangga yang akan dibangunnya. Karena itu adalah kuasa Tuhan, meninggikan derajat dirinya, setelah mengambil pulang ayah dan ibu ke pangkuan-Nya.

“Asalamualaikum….”

“Walaikumsalam…, eh Bu Haji, Naik bu,..” Suara itu sangat dikenalnya. Buru-buru dan tergopoh-gopoh Tini membuka pintu lebar-lebar, menarik kursi dan menyilakan duduk di kursi rotan. Bu Haji bersama suaminya Haji Sardan. Ada apa gerangan? Begitu kata hatinya, karena tidak biasa suami istri ini datang malam ke rumah Tini sejak orangtuanya tidak ada.

Seperti terdakwa ingin mendengar vonis hakim, Tini menanti apa yang penting hari ini. Adakah kesalahan, atau kesilapan yang telah dilakukannya. Mungkin juga yang terlanjur dilakukan dua temannya. Oh, Tini setengah tersentak saat pikirannya sedang mencari-cari kesalahan dirinya.

“Begini Tini,…”

“Iya,….iya Bu Haji,…apakah ada yang salah dari saya ini?”

“Oh, tidak. Kamu gadis baik-baik, itulah yang mau kami sampaikan.”

“Ah Ibu, saya anak yang tak pantas dipuji-piji. Tidak ada yang membimbing saya lagi. Jadi kesalahan lebih memungkinkan saya lakukan, karena tidak ada yang mengajarkan kebaikan dan budi pekerti seorang perempuan yang hijau dan mentah ini,” Tini berkata lebih banyak tunduk tak berani memandang wajah Bu Haji dan suaminya, Haji Sardan.

“Ini kabar baik Tin,…”

“Oh,…”

“Kami diminta untuk menyampaikan kepadamu, ini amanah ustadz yang mengatakan dia….. menyukaimu,….”

“Aduh, ibu…Bu haji, Pak Haji, tidaklah anak malang ini pantas mendampingi ustadz yang terhormat, berpengetahuan luas dan gagah seperti pangeran raja.”

“Kami datang hanya menyampaikan amanah dari ustadz. Dia mohon maaf tidak sanggup mengatakannya sendiri, karena tak baik di mata kampung ini mendatangi gadis yang sendiri. Tapi, yakinlah Tin ini adalah kabar baik yang perlu dipirkirkan baik-baik. Tidak malam ini, besok atau lusa beri kabar kepada Bu Haji bagaimana yang sebenarnya,” tutur Haji Sardan. * Bersambung