No.15

Intainews.com:INGIN Sekali Daham berbicara empat mata dari hati ke hati dengan Tini, setelah malam tadi Bundanya memastikan dia harus menikahi Zuliana, wanita yang sedikitpun tidak menggerakkan jendela batinnnya untuk wanita itu menyelusup ke hatinya menjadi kekasih. Sementara Bunda menjelaskan waktunya sudah sangat dekat, dirinya disandingkan sebagai pengantin di altar rumah Zuliana.

Berhari-hari siang maupun malam, sejak Bunda mempertemukan Zuliana dengan dirinya, perasaannya, batinnya seperti memberi petunjuk tidaklah dirinya cocok dan pas mendampingi Zuliana. Seperti ada kabut, bagaikan ada salef di matanya saat mencoba mengembangkan imajinasinya ke wajah  Zuliana. ‘Tidak kutemukan sosok yang pasti wanita yang segera  menjadi istriku. Bagaimana ini?

Tak ada lain tempatnya mengadu, tempat berdiskusi dan bertanya untuk mendapat pertimbangan agar tidak terpeleset dalam langkah-langkah kehidupan yang akan ditempuhnya. Sekalipun dirinya dianggap berlebih dari segi agama yang dipelajari di pesantren dan Kairo, tetapi Daham sangat mengerti dirinya masih banyak kelemahan dan kekurangan terutama soal cinta.

Setelah pengajian usai dan Tini masih sempat menoleh ke belakang menyaksikan ustadz memandang ke arahnya saat berjalan pulang bersama Pida dan Lies. Haji Sardan, sambil mengemasi musala dan membersihkan lantai papan menyaksikan momen estetis Daham memandangi Tini.

“Pak Haji,….bagaimana saya ini..?”

“Ada apa sebenarnya Ustadz,” kata Haji Sardan Nazir musala pria yang satu-satunya dekat di hatinya.

“Saya dijodohkan Bunda dengan seorang wanita yang tidak lama lagi, saya harus menikahinya.”

“Itu kan jalan terbaik ustadz bagi seorang laki-laki segera menikah. Apalagi persyaratan seperti ustadz sudah lebih dari cukup,” kata Haji Sardan pura-pura tidak tahu kalau dia dan istrinya tahu Ustadz Dahan jatuh hati dengan Tini.

“Tapi,….Pak Haji,…”

“Tapi apa ustadz?” Haji Sardan yakin ustadz muda ini akan jujur mengatakan yang sesungguhnya ada di batinnya. Keduanya lalu sama-sama diam beberapa saat. Ustadz memandang ujung jalan di mana Tini tadi berjalan pulang.

“Saya merasa selama ini, hati saya sudah diisi seorang gadis yang saya sukai, Pak Haji. Saya pun yakin Pak Haji tahu siapa wanita itu,….”

“Saya dan istri saya tidak pasti ustadz,….” kata Pak Haji takut berdosa. * Bersambung