No.14

Intainews.com:TANGIS, maupun kesedihan yang memenuhi dada laki-laki itu sudah tidak ada gunanya lagi, ketika perempuan ini sudah memilih jalannya sendiri, dari yang selama ini hanyut tanpa kepastian. Zuliana sudah cukup kuat hatinya, pergi meninggalkan laki-laki yang mengajaknya berselingkuh dengan janji-jani menikah dan hidup berumahtangga. Nyatanya selama ini menumpuk impian kosong, bagai jembangan tanpa air. Ketika lelaki itu kembali bertanya apakah sesudah Zuliana menikah nanti masih bisa kita bertemu?

Tidak ada jawaban. Zuliana membisu seribu bahasa dan bergelung di atas ranjang seperti ular bersembunyi di balik selimut di antara udara dingin. Wanita itu merasa tidak ada lagi yang mau dikatakannya. Sudah habis kata-kata untuk pemanis hubungan, segalanya segera putus. Dia harus menikah dengan ustadz Daham yang bisa mengubur rapat semua aib yang dilaluinya bersama lelaki ini. Niatnya sudah bulat.

“Kalau kamu tidak mau memberi jawaban, biar saya yang mencari sendiri jawabannya. Bagi laki-laki Zuli, seperti saya, tidak ada yang tidak bisa saya lakukan.”

Lelaki yang limbung itu marah. Terperangkap dengan emosionalnya, karena Zuliana tidak memastikan dia masih harus melayani laki-laki ini setelah menikah. Matanya terus saja memandangi laki-laki yang darahnya sudah naik ke kepala, mengenakan kembali pakainnya. Tanpa bicara, meninggalkan kamar hotel itu, dengan begitu cepat menghidupkan mobil dan langsung menghilang.

Tinggallah Zuliana sendiri yang tidak menyangka lelaki yang menjadi kekasihnya marah besar. Marah yang tidak pernah dilihatnya sama sekali. Bicaranya selama ini lembut dan penuh pengertian, kiranya lelaki itu menyimpan api di kepala dan dadanya. Perlahan-lahan dia pun berkemas, mengenakan pakaiannya kembali.

Sedikit membersihkan wajahnya lalu keluar dari kamar yang sudah semalaman mereka memadu gelora asmara. Segala biaya kamar hotel, makan dan minum sudah dibayar. Tinggal dirinya menghubungi taksi untuk kembali ke rumahnya.

Dalam perjalanan, matanya lepas ke arah ujung jalan yang akan membawanya menjauh dari lelaki yang sudah menikmati kelezatan tubuhnya selama ini. Lelaki yang kini menang, dan akan mudah saja mendapatkan wanita muda lainnya untuk dijadikan pelepasan kebutuhan biologisnya, karena istrinya sakit parah. Zuliana menjadi harus lebih yakin, secepatnya menikah.

Hari ini, ustadz Daham di musala kampungnya bersama jamaah pengajian. Dia berceramah, memberikan tausiah dan menjawab apa saja yang menjadi pertanyaan anak-anak muda, gadis-gadis, ibu dan kaum bapak. Dalam pengajian itu ada Tini, Pida dan Lies. Berulang-ulang Pida dan Lies memandang lurus ke wajah ustadz yang serta merta mengalihkan pandangannya ke wajah jamaah kaum lelaki. Berbeda pula jika Tini yang memandangnya, bagaikan ada kekuatan memanggil hatinya untuk segerer bertemu. * Bersambung