No.6

AH! Semakin terasa tidak ada kesesuaian, sehingga tidak ada yang harus dibicarakan dengan wanita ini. Daham memandang wajah Bunda, seakan ingin meminta sesuatu yang menjadi pertimbangan tentang wanita ini. Namun Bunda malah merespon ucapan Zuliana, agar Daham mau ceramah agama di kantor Zuliana. Sehingga, kata hati bunda, semakin memudahkan Zuliana membisikkan kepada teman-teman kerjanya, dirinya adalah calon menantunya.

Hari ini bagi Daham adalah hari yang tidak menyenangkan, namun ditutupinya sekuat hati supaya tidak menyakiti hati Bundanya. Diterimanya permintaan untuk ceramah di kantor Zuliana. Seterusnya menjelang shalat dzuhur tiba Daham meninggalkan rumahnya untuk hadir di mushala.

Setelah Daham hilang dari pandangan Zuliana mengatakan kepada Bunda, yang didengar langsung oleh mama karena mereka duduk berdekatan di ruang tamu. Zuliana menyebutkan dia sangat tertarik dan suka dengan Daham. Dialah lelaki yang menjadi idaman hatinya, lelaki yang bisa diandalkan untuk membangun rumahtangga bersamanya.

“Ya, kalau sudah begitu. Tidak ada yang susah, kita bicarakan dengan dua belah pihak keluarga menuju pernikahan. Karena Dahaam akan tergantung Bundanya, lalu menikah itulah yang terbaik dalam agama. Jatuh hati, yang menikah. Supaya terhindar hal-hal yang tidak baik,” begitu kata mama Zuliana.

Bunda tersenyum riang, baginya Zuliana adalah wanita yang bisa meneruskan seperti yang dialami dalam hidupnya bersuamikan pegawai negeri. “Saya yakin, Daham tidak menolak keinginan nak Zuliana untuk membangun rumahtangga secepatnya,” kata Bunda.

“Ya, betul bu. Sudah lelah aku sendirian terus dan berulangkali datang laki-laki tak ada satupun yang cocok. Daham ini hatiku cocok, aku suka ma,” kata Zuliana sambil memeluk mamanya dengan riang.

“Tapi beginilah kondisi kami sekarang ini, sejak dtinggalkan ayah Daham lima tahun lalu. Soal keuangan pun kami sudah habis-habisan menyekolahkan Daham sampai ke Kairo,…” Bunda mulai merendahkan diri soal keuangan. Karena dia berharap mengenai biaya pernikahan dan perkawinan anaknya ditanggung oleh pihak Zuliana, kecuali biaya hal-hal yang esensial menjadi kewajiban laki-laki.

Mama Zuliana mengatakan, semua bisa dibicarakan selanjutnya dan bukan hal yang payah. Zuliana menguatkan dengan penuh percaya diri, uangnya cukup untuk biaya pernikahan mewah. Dan dipastikannya tidak habis. Wow! Bunda seperti terkesiap mendengar itu, merasa tidak ada jalan apapun untuk menolak Zuliana dinikahi putranya, Daham.

Ustadz Daham terkejut mendengar cerita Wak Haji Sardan, Tini akan meninggalkan kampung ini merantau ke kota dan kuliah di sana. Sebelumnya ia ingin mendiskusikan niatnya dengan ustadz, namun tidak ada kesempatan. Katanya, Tini yakin ustadz bisa memberi jalan keluar tentang kejenuhan dan kegelisahan dirinya hidup sendiri di kampung ini.

“Siang ini juga, temannya datang menjemput,” kata Haji Sardan. Daham berkata perlahan, bagaimana kalau siang ini juga bisa bertemu dengan Tini. Haji Sardan menawarkan bertemu dirumahnya saja, sekaligus makan siang bersama. *Bersambung