No.5

Intainews.com:BARU saja beberapa saat Daham masuk ke kamarnya, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Lelaki itu melihat dari celah pangkal jendela, seorang wanita memakai jilbab turun dari mobil. Dari pintu sebelah kiri turun wanita separuh baya, Daham memastikan itu adalah ibunya. Tidak lama kemudian ibu dan anaknya itu sudah sampai di ruang tamu rumahnya,

Terdengar suara Bunda memanggil dirinya untuk keluar kamar. Langsung saja Bunda mengenalkan ibunya adalah teman Bunda dan ini anak gadisnya paling kecil dari tiga bersaudara. Daham senyum tipis sekilas dan berbalik untuk kembali masuk ke kamarnya. Bunda menangkap cepat lengan Daham, supaya menemani Zuliana. Banyak yang mau ditanya tentang berbagai pengalaman di Kairo. Juga banyak hal menyangkut agama, Bunda mau ngobrol di belakang dengan ibunya.

Daham tidak pernah mau menyakiti hati Bundanya, ia senantiasa menurut, Ibu baginya adalah orang yang terhormat dan harus dijunjung lebih tinggi dari kepala. Sekalipun kursi yang didudukinya seperti berduri dia duduk juga berhadapan dengan Zuliana yang terus memandangi mata dan penampilan dirinya dengan bebas. Sekilas Daham melirik ke arah wajah yang make-up cukum tebal dan alis digores pinsil, lipstick merah saga menyala.

Selintas Daham teringat pula Tini yang sederhana dan konvensional. Alami tanpa polesan make-up, namun kecantikannya tak kalah dengan Ratu Mesir Cleopatra. Tiba-tiba…

“Bang,…eh aku harus panggil abang, atau nama saja. Sepertinya kita sebaya,” kata Zuliana bermula kata.

Daham tidak berkata, hanya mengurai senyum dan menyilakan dengan telapak tangannya. Kira-kira apa yang baik dan terserah saja, begitu bahasa isyaratnya.

“Kata mama, namanya Daham ya? Aku Zuliana,..” kata wanita itu sambil menyodorkan telapak tangan. Daham menolak halus mohon maaf, lagi ada wuduk.

Zuliana tidak tersipu atau malu. Malah menceritakan di kantornya dia bendahara pengajian. Daham mengangguk, kembali senyum tanda mengerti yang dikatakan lawan bicaranya, sementara hatinya berkata-kata mencoba jujur menilai bagaimana sesungguhnya wanita yang kini ada di hadapannya. Antara dia dan Tini jauhlah panggang dari api. Usia Tini masih sangat muda, tetapi bertingkah laku layaknya wanita, punya rasa malu-malu.

Atau, apakah yang terjadi dengan Daham, seperti sering dikatakan teman-teman kuliahnya di Kairo. Cinta sangat berpengaruh bagi siapa saja yang mencintai. Cinta sangat luar biasa dan mengubah segalanya. Sebagaimana Rumi menyatakan melalui syairnya: Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara berubah menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi nikmat, buruk menjadi jelita.

Tatkala Daham tenggelam dalam pikiran dan hatinya, membuat suasana hening tanpa suara. Sampai Bundanya menghoyak kefakuman, menegur Daham putranya, sambil membawa minuman untuh Zuliana dan Daham.

“Jangan terkejut Ana, anak ibu yang satu ini memang pendiam.”

“Katanya ustadz, kalau pendiam bagaimana mau ceramah agama Tante?”
“Ho…ho… kalau di masjid atau di musala, di muka umum dia pandai bicara, karena ilmu agamanya yang tinggi. Dia bicara tentang agama tidak habis-habisnya seperti air sungai yang mengalir,” Bunda memuji anak lajangnya yang dianggapnya paling segalanya, gagah dan terhormat.

“Kami datang ke sini memang mau mengundang kamu ceramah agama, memberi tausiah, apapun namanya soal agamalah kepada anggota pengajian kami di kantor kami. Jumlahnya ada seratus orang lebih,” Zuliana berimprovisasi yang sesungguhnya tidak ada rencana itu. *Bersambung