No.4

Intainews.com:BINTANG barat di langit sudah pergi, menyusul bintang fajar datang tanda hari segera siang. Daham masih di musala usai menjadi imam shalat subuh. Dia membaca Al Quran, suaranya khas dengan langgam lagunya kentara tamatan Kairo. Itu yang membuat warga kampung tahu betul siapa yang sedang azan, membaca quran dan yang menjadi imam.

Ustadz muda ini, setelah kembali dari Kairo pengetahuan agamanya dianggap warga cukup tinggi, senantiasa menundukkan kepala tidak membusungkan dada. Baik budi dan berakhlak. Menjadi perhatian banyak orang, dan tidak sedikit anak-anak gadis ingin mendapatkan tempat di hatinya. Siapakah gadis yang beruntung mendapat kesempatan menjadi kekasihnya. Banyak pertanyaan seperti itu muncul.

Saat ini Ustadz Daham sedang bicara dengan nazir musala, serius sekali nampaknya. Oh, Daham meminta tolong kepada Haji Sardan agar bertanya kepada Tini apa yang sedang mengganggu jiwanya hingga gundah gulana. Problem itu tidak boleh dibiarkan lama berdiam di hati perempuan seperti Tini yang sendiri. Gadis Tini sepertinya berada di persimpangan yang rawan.

Wak Haji Sardan mengerti hati Ustadz Daham, dia berjanji akan mendatangi Tini di rumahnya melihat keadaan gadis itu. Memang sudah lama juga dia dan istrinya tidak mengunjungi Tini. Biasanya dia acap bersama istrinya bercakap-cakap dengan Tini. Yang menyuruh Tini ikut pengajian Ustadz Daham pun istrinya. Mulanya Tini menolak, tapi akhirnya dia mau ikut mengaji dengan Ustadz Daham.

“Kak,….kak asalamualaikum,…,” seorang pemuda tanggung memanggilnya.

“Walaikum salam,….” Tini membuka pintu, memandang pemuda yang setiap pulang dari melaut membawa ikan segar untuknya.

“Ikan tak ada kak. Ini udang sama kepiting.”

“Tak usah kakak ambil semua ya, kakak mau ke kota,” kata Tini memperhatikan udang kelong segar, besar-besar, hampir sejengkal panjangnya, kalau saja udang itu tak bungkuk.

“Ambillah semua kak, nantikan bisa kakak goreng untuk dimakan di jalan ke kota.”

“ Ya sudah berapa itu semua,….”

“Seperti biasa,…terserah kakak sajalah.”
Tini menyerahkan uang limapuluh ribu rupiah.

“Tak ada, kembaliannya… kak,…”

“Sudahlah, ambil saja,….”

“Terimakasih kak. Kapan kakak pulang dari kota.”

“Mungkin agak lama,….Kakak mau kuliah.”

“Waduh. Siapa lagi yang membeli ikanku kak….”

“Ah,… rezeki Allah yang mengatur,…”

Pemuda itu tak lagi berkata, hanya senyum simpul dan berlalu. Tini segera menyiangi udang yang direncanakan digoreng sambal belado. Tiga ekor kepiting disop saja. Siang ini Pida dan Lies sudah datang. Pagi tadi mereka memberitahu sudah berangkat dari kota.

Hatinya yang sudah cukup kuat meninggal kampung halaman, membuat dirinya girang temannya datang, yang seakan menjemputnya. Menjelang berangkat nanti, seperti biasa akan pamit dan menitipkan rumahnya kepada Wah Haji Sardan. *Bersambung