Tantawi Panggabean

Tantawi Panggabean

MENAPAK HATI

Terhapus halimun dingin
Mata redup, ingatan melambung tinggi
Keras membatu lembut bak sutra
Tercabik birat urat kayu
Kulepas rinduku biru haru
Terbang melayang tersapu bayu
Adakah inginku kembali merona
Adakah kisahku kembali nyata
Bilur-bilur noktah,tak mungkin membara
pasti.
Kemelut bertubi-tubi tak henti
Tapak-tapak kaki menyusuri krikil tajam
tak berarah.
Hati membeku langkah tak menapak lagi
Pupus angan,semilir bayu tak lagi mengusap sukma
Kudera hatiku untuk merayap kalbu

Tantawi Panggaben
PENGAMEN TUA PENGGESEK BIOLA USANG

Engkau puisikan dendang lagu minangmu
Dalam nada mendayu -dayu
Duduk menghampar senyum getir bertopi kumal.
Abadi seni dalam diri tak tergeser budaya milineal .
Nada-nada monoton terlontar dari sela-sela kemurnian abadi tak mampu tergeser zaman
Senandung lagu berbahasa ibu tergema gendang telinga,tanpa makna lugas tapi pasti.
Engkaulah pekerja seni memapah nada cipta irama tak berharmoni ,Syair lagumu
berbaur duka terlontar dari gerak bibir hitam kepedihan.
Terus-teruslah dendangkan lirik-lirik nan miris,sekelumit syair kepedihanmu tuk doa orang yang bepergian.
Kok bajalan mintalah salamek tibo di tujuan
(Silungkang Sumbar)

Lusi Afrima
PAINAN

Daun yg jatuh tak pernah salahkan angin
Selayaknya cinta yang tak pernah dustai
takdir
Bila pencipta tak lagi genggam ,suratan antara
kua dan aku,berbaik sangkalah
Sebab angan masih jua memupuk rindu
nan subur
Lipatan kisah seumpama catatan dalam
Ingatan
Kayu tergulung api,meraup percikan abu
namun semesta simpan segala kenangan perjalanan
panjang tentang pulang yang entah kapan akan terulang
Tentang sua yang entah kapan berjumpa
Semua hanya harapan kosong diarak hari
yang terus berlari.
Seumpama menanam janji dipunggung waktu,menggali dan terus digali hingga tubuh kering menjalani denyut jantung yang kian sepi.
Sepenggal malam telah terlewati tanpamu
Bayang -bayang masa lalu satu demi satu
hadir diruang hati.
Kisah itu kembali menggelora,menyayat luka,namun rindu itu beku,semua hanya abu-abu.
Mulut seakan bisu bungkam hening merajam diri dalam kelam.

(Ubud Bali November 2018)