No.3

Intainews.com:DAHAM sungguh tidak menyangka sedikitpun kalau sorot mata Bundanya menyimpan api amarah yang dalam, tatkala ia menyinggung apa yang dirasakan Tini. Mengertilah dia Bunda tidak suka dengan gadis itu. Tini kata Bunda, tidak pantas menjadi pilihan lekaki terhormat seperti Daham anaknya, yang tinggi ilmu dan pengetahuannya setelah mengeluarkan uang berjuta-juta.

“Daham, anakku…. terlalu mahal sekali rasanya apa yang kau punya sekarang, tidaklah sepadan untuk perempuan serendah itu.”

“Oh, Bunda. Tidaklah bermaksud menyinggung perasaan Bunda, saya hanya menceritakan ada perubahan apa di jiwa Tini. Dia galau dan gelisah. Apa sebenarnya tersimpan di hati perempuan yang sedang galau itu…..”

“Tidak perlu menjadi urusan kita. Sudah malam, tidurlah. Besok perempun yang Bunda ceritakan kemarin itu mau datang bertandang bersama ibunya ke rumah kita,…” tutur Bunda penuh harap Daham menyambutnya.

Daham melempar senyum ke Bunda, mencium tangan ibunya dan masuk ke kamar. Membaringkan tubuhnya di ranjang dengan menghela napas panjang. Taulah kini untung dirinya, yang sedang dijodohkan kepada seorang wanita yang menurut Bunda sebaya dengan usianya.

“Perempuan se usia itu matang dalam mengurus rumahtangga, punya jaminan hidup sebagai PNS,” tambah Bunda.

Sungguh, berulangkali sejak dirinya diantar ke pesantren tempo hari, di perjalanan Bunda mengatakan hal itu tak pernah lelah.

“Kalau almarhum ayahmu bukan pegawai negeri dan punya jabatan, takakan kami bisa menyekolahkanmu sampai ke Kairo, dan membayar semua ongkos hidup kita,…”

Daham istigfar di dalam hatinya. Ingin memberi kesejukan kepada Bunda, tetapi itu tidaklah mungkin. Sesungguhnya penghasilan dan jabatan bukan satu-satunya obat dari penyakit kekurangan dan penderitaan dalam kehidupan. Kekayaan dan harta bisa mendatangkan virus penyakit kesombongan. Mawar bisa menjadi duri, jabatan dapat laksana bara api membakar diri.

Daham yang dipanggil ustadz lalu keluar kamar mengambil wuduk dan kembali menegakkan shalat malam. Dzikir panjang untuk kembali menenangkan dirinya, bagai berada di air mengalir jernih menyejukkan batin. Iapun bertanya melalui batinnya, meminta petunjuk-Nya, apa gerangan yang sedang dialami Tini.

Perempuan yang dituju, baru saja mengemasi beberapa potong pakaian ke dalam tas untuk dibawanya pergi ke kota bersama temannya Pida dan Lies yang datang ke rumahnya besok. Hatinya diusahakannya kuat untuk ‘terbang meninggalkan sarang’, seperti kata ayah.

Selama ini dia merasa dirinya tonggak yang hoyong di tengah keramaian. Orang-orang di kampungnya sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Gadis-gadis sebayanya pergi pagi pulang petang bekerja mengupas kerang, memilih ikan atau menebas daun atap. Dirinya seperti terdampar dalam kesepian. Sebagai manusia muda, jiwanya ingin berontak.

Merantau adalah keputusan kuat hati Tini. Kalaupun datang ke kampung nanti, hanya mengurus rumah-rumah yang ditinggalkan, kalau-kalau ada yang mau membelinya. Dan tengah malam ini juga Hati Daham kuat pula untuk mendapat informasi apa yang sedang diderita Tini, dia akan mengusahakannya untuk tahu. Kenapa? *Bersambung