No-2

Intainews.com:DI MUSALA, Daham baru saja usai shalat dzuhur. Dia berdiri memandang lepas ke arah utara, nun jauh di ujung gang biasanya serombongan kaum ibu datang untuk mengaji. Tidak lama kemudian, lelaki berkulit putih bersih berusia hampir tigapuluh tahun itu masuk ke dalam musala setelah menimbang rombongan kau ibu segera tiba.

Yang membuat matanya bersinar riang menyaksikan di antara rombongan kaum ibu itu ada Tini. Lelaki yang belum lama kembali dari Kairo setelah menamatkan pendidikannya, hampir tidak mengenal Tini yang tumbuh menjadi gadis paling jelita di kampungnya. Bundanya mengingatkan, Tini kecil yang selalu melintas di depan rumah bersama ayah dan ibunya saat menuju ladang.

Ya,… bunda mengembalikan kenangannya. Kepergiannya meninggalkan kampung halaman, menjadi santri di Jawa dan kuliah di Mesir, banyak pohon bertunas dan tumbuh menjadi besar. Ibunya mengusik kenangannya tentang Tini kecil. Sekarang Tini sebatangkara. Sesudah ayahnya, ibunya menyul meninggal dunia. Tidak ada sanak famili di kampung ini. Saudara se ayah dan se ibu ada di Jawa, tak tahu persisnya di mana.

Di musala, ketika pengajian berlangsung, sekilas mata memandang, sekali-sekali mata Daham bertumbukan dengan mata Tini. Saat itu terjadi, Tini menunduk, lekas membuang pandangannya ke arah teman di sebelahnya. Selanjutnya mereka tenggelam dalam pengajian, sehingga waktu berlalu sangat cepat dan pengajian usai.

Hijrah ke kota yang ingin ditanyakan kepada ustadz menjadi tidak kesampaian. Tidak ada momen estetis yang bisa membuat Tini menanyakan hal itu. Tetapi, apakah patut dirinya kembali meninggalkan kampung saat ini setelah dirinya tinggal sendiri. Lalu hidup di kota yang tumbuh berkembang seperti hutan beton, teknologi dan modernisasi.

Lalu, apakah  penting sekali Ustadz Daham mengizinkan atau tidak. Bukankah dia tidak ada ikatan apapun, kecuali hanya seorang ustadz dalam sebuah pengajian di musala, untuk mengisi kekosongan diri yang sepi di rumah, kata batinnya. “Semakin bertambah usia orang, semakin berkurang ketergantungan. Seperti anak burung yang mulanya lemah, begitu sayapnya kuat terbang, terbanglah dia meninggalkan induk dan sarang,…”

Perempuan yang baru tamat SMA, ditinggalkan kedua orangtuanya ini, mengingat pesan-pesan ayah dan ibu. “Walaupun kau anak satu-satunya, tapi tetap saja kami akan meninggalkanmu. Yang tidak diketahui kapan,….” kata ibunya.

Apabila seseorang ingin mendapatkan hidupnya, harus bisa menghilangkan kebanggaan dan ketergantungan. Hilangkan jiwa yang kerdil, berlari,….berlari berusaha dengan tangan dan kakimu mencari kehidupan. Itulah semua pesan-pesan ayah dan ibu yang terkumpul di jiwa dan batinnya.

Malam-malam yang dingin, usai shalat malam saat diterpa kesepian terus saja menghadirkan suara-suara ayah dan ibu, yang kini segalanya tentang dirinya hidup sendiri. Ya, itulah. Tini bergegas bangkit mengambi buku dan menulis, apa-apa yang harus dikemas. Agar secepatnya ia meninggalkan kampung halamannya.

Di Malam yang sama, usai beribadah saat duduk berdampingan dengan Bunda, tiba-tiba lidah Daham menyebut Tini. “Bunda,…sepertinya Tini sedang galau, ada beban yang tersimpan di batinnya. Biasanya di pengajian dia banyak bertanya, kali ini dia diam saja dan gelisah, ada apa ya Bunda,…”. Wajah ibunya menyorot tajam mata anak lelakinya. Seperti tidak suka. “Ada apa Bund?” *Bersambung