No 1

Intainews.com:SESOSOK perempuan tinggi semampai dibalut mukenah warna pink menghadap kiblat, seiring datangnya subuh. Tegak lurus di atas sajadah. Dengan khusuk lalu melayang menghadap Tuhannya Yang Esa. Butiran air wudhuk merambat meluncur dan jatuh menetes dari ujung hidungnya yang lancip.

Dibacanya dengan dengan lidah yang fasih ayat-ayat dalam shalatnya, dilakukannya sendirian di rumahnya setelah kedua orangtuanya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ditengadahkannya telapak tangannya setiap usai shalat dan berdzikir. Doa-doa meluncur dari bibirnya yang sangat konvensional, bagai delima merkah tanpa polesan lipstick. Doa untuk ibu, doa untuk ayah yang sudah mendahuluinya. Tak luput doa buat teman sekolahnya yang kini berada di alam barzah, setelah menjadi korban kecelakaan.

Setelah ditinggalkan orang-orang tercinta, di usianya yang masih muda, setahun setelah tamat SMA kini dia benar-benar sendiri. Seperti tonggak kayu yang lemah di tangkahan nelayan di kampunya, bergoyang-goyang diterpa riak dan gelombang. Menghadapi kenyataan hidup yang terus merambat dengan sentuhan berbagai modernisasi dan teknologi.

Berkali-kali teman-teman semasa di SMA memintanya untuk kembali berkumpul bersama untuk hidup di kota. Berjuang menggapai kehidupan yang maju dan menawarkan banyak kemungkinan dibanding tinggal di kampung tanpa sesiapa.

“Rumah warisanmu itu bisa kau sewakan saja. Uangnya bisa kau pakai untuk biaya kuliahmu. Mau jadi apa anak perempuan kalau tidak kuliah sekarang ini,” begitu temannya memberi masukan.

“Biar aku pikirkan dulu, supaya jangan sesat nanti. Aku diskusikan dengan ustadz, bagaimana sebenarnya yang paling baik untuk anak perempuan sebatangkara ini.”

“Ustadz itu siapamu? Masih lajang? Kau suka sama dia?”

“Ya, aku suka. Masih muda, tinggi ilmunya, tamatan pesantren di pulau Jawa dan lulusan Kairo Mesir. Belakangan ini dia banyak mengajariku soal kehidupan dan meluruskan jalan pikiranku,…”

“Yang kutanya dia itu apa masih lajang. Dan siapamu,” Tanya teman sekolahnya ingin memastikan.

“Ya, belum menikah. Dia guruku,…..”

“Apa kau pikir di kota ini tidak ada guru agama. Di sini banyak guru tamatan timur tengah yang ganteng-ganteng bisa mengajarimu apa saja. Minggu besok, aku dan Lies ke rumahmu, kenalkan kami dengan gurumu. Siapa tahu dia tertarik denganku atau si Lies.” Hubungan komunikasi handphone terputus.

Perempuan muda ini lalu bergegas bersih-bersih rumah. Sebagaimana ia hidup sendiri, menyiapkan masakan untuk disantap sendiri. Siang ini, kata hatinya, ada pengajian dengan ustadz, ia harus segera berkemas. Batinnya bertanya-tanya, apakah patut dan sopan kalau dirinya menceritakan kepada ustadz tentang kepergiannya meninggalkan kampung halaman ini. Apa pentingnya bagi ustadz soal-soal pribadinya ini.

Ah, lebih baik dipertimbangkan dan diputuskannya sendiri saja. Meninggalkan rumah yang ditempatinya, lima rumah kontrakan dan lima hektar lahan kini sedang ditanami palawija dan padi dengan sistem bagi hasil. Ustadz Daham pernah mengatakan kepada dirinya hidup harus hijrah dan berusaha karena hak manusia berusaha hak Tuhan menentukan dan memberi. Ya, inilah jalan terbaik untuk hijrah, supaya hidup tidah hanya menghabiskan peninggalan orangtua. *Bersambung